Cacat Tidak Menghalangi Untuk Berprestasi

Kecelakaan yang menimpanya tahun 1992 lalu telah membuat mata Vina Ridhwan (30) buta. Waktu itu ia masih duduk di bangku kelas 1 SMP di Bogor. Dampak dari kecelakaan itu baru ia rasakan 6 tahun kemudian, saat ia duduk di bangku kelas 3 SMA. Secara perlahan Vina mengalami penurunan daya pandang hingga akhirnya ia mengalami kebutaan total.

Kepada UMJ News yang menemuinya di Kampus UMJ, wanita kelahiran 12/11/1979 ini menuturkan bahwa pada awalnya ia sering menangis setelah mengetahui matanya buta. ”Kepala saya yang terbentur batu saat itu telah membuat saya kehilangan penglihatan, namun akhirnya saya dapat menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Saya yakin Allah memiliki rencana besar untuk saya, bahkan orang yang menabrak saya waktu itu pun tidak tahu kalau akhirnya saya mengalami kebutaan, dan saya sudah memaafkannya”, kata Vina kepada UMJ News. ”Cacat tubuh tidak menghalangi saya untuk berprestasi dalam segala hal”, kata Vina menambahkan.

Kebutaan tidak membuatnya patah semangat untuk belajar. Setelah tamat dari SMA 5 Bogor tahun 2005, Vina meneruskan studinya ke Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Ilmu Komunikasi FISIP menjadi pilihannya. Menurutnya, motivasi ia kuliah di UMJ karena UMJ terbuka bagi mahasiswa tuna netra. Sementara di daerah tempat tinggalnya di Bogor, ia belum menemukan universitas yang mau menerima mahasiswa tuna netra. Selain itu, katanya banyak teman-teman Vina yang juga tuna netra kuliah di FISIP UMJ, terutama di Prodi. Kesejahteraan Sosial. Selama kuliah di UMJ, anak tertua dari 6 bersaudara ini ngekost di Lebak Bulus.

Saat kuliah pun, ia tidak menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja. Tahun 2006, Vina menjadi mahasiswa teladan di FISIP UMJ karena Indek Prestasi Komulatif (IPK) nya terbesar saat itu. Saat memasuki semester 6, ia sudah diminta bekerja di Intercontinental Hotel, di Mid Plaza kawasan Sudirman. Di sana ia menduduki posisi sebagai HRD Departement dan juga sebagai guru bahasa Inggris utuk para karyawan hotel. Selain itu, sejak tahun 2009 ia juga menjadi guru di Yayasan Mitra Netra di Gunung Balong, Lebak Bulus, Jaksel. Saat ini ia juga menjabat sebagai Ketua Bidang Rehabilitasi dan Pendidikan Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni). Bersama beberapa temannya yang juga tuna netra, Vina juga mendisain website Karya Tuna Netra Indonesia (Kartunet), suatu pekerjaan yang sepertinya tidak mungkin dilakukan oleh orang tuna netra. Di sana ia juga menjadi Public Relations.

Kemahirannya dalam mengoperasikan komputer atau labtop beserta semua aplikasinya sangat baik. Dengan laptop yang sudah diprogram untuk dapat bersuara sebagai pemandu, jari jemari tangannya dengan cepat telah menghafal posisi tut keyboard. Saat ini ia baru menyelesaikan sidang skripsi dengan judul Kontribusi Faktor Pendidikan Terhadap Gegar Budaya yang dialami Tenaga Kerja Wanita (Studi Komunikasi antar Budaya Mantan TKI di Arab Saudi asal Kecamatan Ciampea). Untuk skripsinya ini Vina mewawancarai 6 orang mantan TKI di Arab Saudi dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Ia menyimpulkan bahwa latar belakang pendidikan sangat berpengaruh terhadap gegar budaya atau trauma terhadap perubahan kondisi budaya di tempat TKI yang baru.

Sebagai orang yang ingin terus berjuang, Vina tidak hanya puas dengan pendidikan S1. Ia juga berkeinginan melanjutkan studinya ke jenjang S2. ”Kalau ada kesempatan dan kemudahan saya ingin meneruskan pendidikan ke S2 Ilmu Komunikasi”, katanya mengakhiri wawancara dengan UMJ News. Kalau tuna netra saja memiliki semangat dan rasa syukur yang begitu besar, bagaimana dengan mereka yang normal?  (End. Zak)

EduPeople.net adalah sarana bagi komunitas Sistem Informasi dan Teknologi Informasi yang dibentuk sebagai media pembelajaran, pengajaran, hingga pencerahan tingkat enterprise.
Mari bergabung, tingkatkan kualitas pribadi dan bangsa, lebarkan sayap koneksi sebagai bentuk investasi.
Education for People. 

User login

Navigation

Customer Service
Agung Sr
EduPeople on Facebook